<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mukhlis Blog &#187; islam</title>
	<atom:link href="http://www.mukhlis.net/tag/islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.mukhlis.net</link>
	<description>coretan mukhlis</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Jun 2011 08:19:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Qurban; sejarah, Keutamaan dan Hukumnya</title>
		<link>http://www.mukhlis.net/qurban-sejarah-keutamaan-dan-hukumnya/</link>
		<comments>http://www.mukhlis.net/qurban-sejarah-keutamaan-dan-hukumnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Nov 2010 03:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mukhlisn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[qurban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.mukhlis.net/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[Qurban dalam istilah fikih adalah Udhiyyah (الأضحية) yang artinya hewan yang disembelih waktu dhuha, yaitu waktu saat matahari naik. Secara terminologi fikih, udhiyyah adalah hewan sembelihan yang terdiri onta, sapi, kambing pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasriq untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kata Qurban artinya mendekatkan diri kepada Allah, maka terkadang kata itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.mukhlis.net/mukhlis/wp-content/uploads/2010/11/Qurban.gif"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-520" title="Qurban" src="http://www.mukhlis.net/mukhlis/wp-content/uploads/2010/11/Qurban-150x150.gif" alt="" width="150" height="150" /></a><strong>Qurban</strong> dalam istilah fikih adalah <strong>Udhiyyah </strong>(<strong>الأضحية</strong>) yang artinya hewan yang disembelih waktu dhuha, yaitu waktu saat matahari naik. Secara terminologi fikih, udhiyyah adalah hewan sembelihan yang terdiri onta, sapi, kambing pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasriq untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kata Qurban artinya mendekatkan diri kepada Allah, maka terkadang kata itu juga digunakan untuk menyebut udhiyyah.</p>
<p>Mempersembahkan persembahan kepada tuhan-tuhan adalah keyakinan yang dikenal manusia sejaka lama. Dalam kisah Habil dan Qabil yang disitir al-Qur’an disebutkan Qurtubi  meriwayatkan bahwa saudara kembar perempuan Qabil yang lahir bersamanya bernama Iqlimiya sangat cantik, sedangkan saudara kembar perempuan Habil bernama Layudza tidak begitu cantik.</p>
<p>Dalam ajaran nabi Adam dianjurkan mengawinkan saudara kandung perempuan mendapatkan saudara lak-laki dari lain ibu. Maka timbul rasa dengki di hati Qabil terhadap Habil, sehingga ia menolak untuk melakukan pernikahan itu dan berharap bisa menikahi saudari kembarnya yang cantik. Lalu mereka sepakat untuk mempersembahkan qurban kepada Allah, siapa yang diterima qurbannya itulah yang akan diambil pendapatnya dan dialah yang benar di sisi Allah. Qabil mempersembahkan seikat buah-buahan dan habil mempersembahkan seekor domba, lalu Allah menerima qurban Habil.</p>
<p>Qurban ini juga dikenal oleh umat Yahudi untuk membuktikan kebenaran seorang nabi yang diutus kepada mereka, sehingga tradisi itu dihapuskan melalui perkataan nabi Isa bin Maryam.Tradisi keagamaan dalam sejarah peradaban manusia yang beragam juga mengenal persembahan kepada Tuhan ini, baik berupa sembelihan hewan hingga manusia. Mungkin kisah nabi Ibrahim yang diperintahkan menyembelih anaknya adalah salah satu dari tradisi tersebut.  <strong></strong></p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">Dalam al-Qur’an dikisahkan:</span></strong></p>
<p>37. 102. <em>Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”</em>.</p>
<p>37. 103. <em>Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). </em></p>
<p>37. 104. <em>Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,</em></p>
<p>37. 105. <em>sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu  sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik</em>.</p>
<p>Yang dimaksud dengan “membenarkan mimpi” ialah mempercayai bahwa mimpi itu benar dari Allah s.w.t. dan wajib melaksana- kannya.</p>
<p>37. 106. <em>Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.</em></p>
<p>37. 107. <em>Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.</em></p>
<p>Sesudah nyata kesabaran dan keta’atan Ibrahim dan Ismail a.s. maka Allah melarang menyembelih Ismail dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing).  Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya Qurban yang dilakukan pada hari Raya Haji.  Persembahan suci dengan menyembelih atau mengorbankan manusia juga dikenal peradaban Arab sebelum Islam.</p>
<p>Disebutkan dalam sejarah bahwa Abdul Mutalib, kakek Rasululluah, pernah bernadzar kalau diberi karunia 10 anak laki-laki maka akan menyembelih satu sebagai qurban. Lalu jatuhlah undian kepada Abdullah, ayah Rasulullah. Mendengar itu kaum Quraish melarangnya agar tidak diikuti generasi setelah mereka, akhirnya Abdul Mutalib sepakat untuk menebusnya dengan 100 ekor onta. Karena kisah ini pernah suatu hari seorang badui memanggil Rasulullah “Hai anak dua orang sembelihan” beliau hanya tersenyum, dua orang sembelihan itu adalah Ismail dan Abdullah bin Abdul Mutalib.</p>
<p>Begitu juga persembahan manusia ini dikenal oleh tradisi agama pada masa Mesir kuno,  India, Cina, Irak dan lainnya. Kaum Yahudi juga mengenal qurban manusia hingga Masa Perpecahan. Kemudian lama-kelamaan qurban manusia diganti dengan qurban hewan atau barang berharga lainnya. Dalam sejarah Yahudi, mereka mengganti qurban dari menusia menjadi sebagian anggota tubuh manusia, yaitu dengan hitan. Kitab injil penuh dengan cerita qurban. Penyaliban Isa menurut umat Nasrani merupakan salah satu qurban teragung. Umat Katolik juga mengenal qurban hingga sekarang berupa kepingan tepung suci.</p>
<p>Pada masa jahilyah Arab, kaum Arab mempersembahkan lembu dan onta ke Ka’bah sebagai qurban untuk Tuhan mereka.  Ketika Islam turun diluruskanlah tradisi tersebut dengan ayat Allah:</p>
<p>5. 2. <em>Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah [389], dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram [390], jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya</em> [391], d<em>an binatang-binatang qalaa-id</em> [392], <em>dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya </em>[393] <em>dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu</em>.</p>
<p>Islam mengakui konsep persembahan kepada Allah berupa penyembelihan hewan, namun diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan bersih dari unsur penyekutuan terhadap Allah. Islam memasukkan dua nilai penting dalam ibadah qurban ini, yaitu nilai historis berupa mengabadikan kejadian penggantian qurban nabi Ibrahim dengan seekor domba dan nilai kemanusiaan berupa pemberian makan dan membantu fakir miskin pada saat hari raya.</p>
<p>Dalam hadist riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi dari Zaid bin Arqam, suatu hari Rasulullah ditanyai <em>“untuk aapa sembelihan ini?”</em> belian menjawab: <em>“Ini sunnah (tradisi) ayah kalian nabi Ibrahim a.s.”</em> lalu sahabat bertanya:”Apa manfaatnya bagi kami?” belau menjawab:<em>”Setiap rambut qurban itu membawa kebaikan”</em> sahabat bertanya: <em>“Apakah kulitnya?”</em> beliau menjawab: <em>“Setiap rambut dari kulit itu menjadi kebaikan”.</em></p>
<p>Qurban juga ditujukan untuk memberi makan jamaah haji dan penduduk Makkah yang menunaikan ibadah haji. Dalam surah al-Hajj ditegaskan”</p>
<p>22. 34. <em>Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).Begitu juga dijelaskan: </em></p>
<p>22. 27. <em>Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus [985] yang datang dari segenap penjuru yang jauh, [985]. “Unta yang kurus” menggambarkan jauh dan sukarnya yang ditempuh oleh jemaah haji.</em></p>
<p>22. 28. <em>supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan [986] atas rezki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak [987]. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. [986]. “Hari yang ditentukan” ialah hari raya haji dan hari tasyriq, yaitu tanggal</em><em>10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. [987]</em>.</p>
<p><a href="http://www.mukhlis.net/mukhlis/wp-content/uploads/2010/11/qurban.jpg"></a><a href="http://www.mukhlis.net/mukhlis/wp-content/uploads/2010/11/hewan-qurban.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-522" title="hewan qurban" src="http://www.mukhlis.net/mukhlis/wp-content/uploads/2010/11/hewan-qurban.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a><a href="http://www.mukhlis.net/mukhlis/wp-content/uploads/2010/11/qurban.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-521" title="qurban" src="http://www.mukhlis.net/mukhlis/wp-content/uploads/2010/11/qurban-300x210.jpg" alt="" width="300" height="210" /></a></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Dalil-dalil qurban: </strong></span></p>
<ol>
<li>Firman Allah dalam surah al-Kauthar: <em>“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah”</em>. Ayat ini boleh dijadikan dalil disunnahkannya qurban dengan asumsi bahwa ayat tersebut madaniyyah, karena ibadah qurban mulai diberlakukan setelah beliau hijrah ke Madinah.</li>
<li>Hadist riwayat Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik r.a.:”Rasulullah berqurban dengan dua ekor domba gemuk bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangan beliau dengan membaca bismillah dan takbir, beliau menginjakkan kakinya di paha domba”.</li>
</ol>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Hukum Qurban:</strong></span></p>
<ol>
<li>Mayoritas ulama terdiri antar lain: Abu Bakar siddiq, Uamr bin Khattab, Bilal, Abu Masud, Said bin Musayyab, Alqamah, Malik, Syafii Ahmad, Abu Yusuf dll. Mengatakan Qurban hukumnya sunnah, barangsiapa melaksanakannya mendapatkan pahala dan barang siapa tidak melakukannya tidak dosa dan tidak harus qadla, meskipun ia mampu dan kaya.Qurban hukumnya sunnah kifayah kepada keluarga yang beranggotakan lebih satu orang, apabila salah satu dari mereka telah melakukannya maka itu telah mencukupi. Qurban menjadi sunnah ain kepada keluarga yang hanya berjumlah satu orang. Mereka yang disunnah berqurban adalah yang mempunyai kelebihan dari kebutuhan sehari-harinya yang kebutuhan makanan dan pakaian.</li>
<li>Riwayat dari ulama Malikiyah mengatakan qurban hukumnya wajib bagi mereka yang mampu.</li>
</ol>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Adakah nisab qurban?</strong></span></p>
<p>Para ulama berbeda pendapat mengenai ukuran seseorang disunnahkan melakukan qurban.</p>
<p><em><strong>Imam Hanafi</strong></em> mengatakan barang siapa mempunyai kelebihan 200 dirham atau memiliki harta senilai itu, dari kebutuhan tinggal, pakaian dan kebutuhan dasarnya.  <em><strong></strong></em></p>
<p><em><strong>Imam Ahmad</strong></em> berkata: ukuran mampu quran adalah apabila dia bisa membelinya dengan uangnya walaupun uang tersebut didapatkannya dari hutang yang ia mampu membayarnya.  <em><strong></strong></em></p>
<p><em><strong>Imam Malik</strong></em> mengatakan bahwa ukuran seseorang mampu qurban adalah apabila ia mempunyai kelebihan seharga hewan qurban dan tidak memerlukan uang tersebut untuk kebutuhannya yang mendasar selama setahun.Apabila tahun itu ia membutuhkan uang tersebut maka ia tidak disunnahkan berqurban.</p>
<p><em><strong>Imam Syafii</strong></em> mengatakan: ukuran mampu adalah apabila seseorang mempunyai kelebihan uang dari kebutuhannya dan kebutuhan orang yang menjadi tanggungannya, senilai hewan qurban pada hari raya Idul Adha dan tiga hari tasyriq.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Keutamaan qurban:</strong></span></p>
<ol>
<li>Dari Aisyah r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda:”<em>Amal yang paling disukai Allah pada hari penyembelihan adalah mengalirkan darah hewan qurban, sesungguhnya hewan yang diqurbankan akan datang (dengan kebaikan untuk yang melakukan qurban) di hari kiamat kelak dengan tanduk-tanduknya, bulu dan tulang-tulangnya, sesunguhnya (pahala) dari darah hewan qurban telah datang dari Allah sebelum jatuh ke bumi, maka lakukanlah kebaikan ini”</em>. (H.R. Tirmidzi).</li>
<li>Hadist Ibnu Abbas Rasulullah bersabda:”<em>Tiada sedekah uang yang lebuh mulia dari yang dibelanjakan untuk qurban di hari raya Adha”</em>(H.R. Dar Qutni).</li>
</ol>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Waktu penyembelihan Qurban</strong></span></p>
<p>Dari Jundub r.a. :Rasulullah melaksanakan sholat (idulAdha) di hari penyembelihan, lalu beliau menyembelih, kemudian beliau bersabda: <em>”Barangsiapa menyembelih sebelum sholat maka hendaknyha ia mengulangi penyembelihan sebagai ganti, barangsiapa yang belum menyembelih maka hendaklah ia menyembelih dengan menyebut nama Allah”</em>. (H.R. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Dari Barra’ bin ‘Azib, bahwa paman beliau bernama Abu Bardah menyembelih qurban sebelum sholat, lalu sampailah ihwal tersebut kepada Rasulullah s.a.w. lalu beliau bersabda:<em> ”Barangsiapa menyembelih sebelum sholat maka ia telah menyembelih untuk dirinya sendiri dan barang siapa menyembelih setelah sholat maka sempurnalah ibadahnya dan sesuai dengan sunnah (tradisi) kaum muslimin”</em>(H.R. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Hadist Barra’ bin ‘Azib, Rasulullah s.a.w. bersabda:<em>”Pekerjaan yang kita mulai lakukan di hari ini (Idul Adha) adalah sholat lalu kita pulang dan menyembelih, barangsiapa melakukannya maka telah sesuai dengan ajaran kami, dan barangsiapa memulai dengan menyembelih maka sesungguhnya itu adalah daging yang ia persembahkan untuk keluarganya dan tidak ada kaitannya dengan ibadah”</em>(H.R. Muslim).</p>
<p>Imam Nawawi menegaskan dalam syarah sahih Muslim bahwa waktu penyembelihan sebaiknya setelah sholat bersama imam, dan telah terjadi konsensus (<em>ijma’</em>) ulama dalam masalah ini. Ibnu Mundzir juga menyatakan bahwa semua ulama sepakat mengatakan tidak boleh menyembelih sebelum matahari terbit.  Adapun setelah matahari terbit, Imam Syafi’i dll menyatakan bahwa sah menyembelih setelah matahari terbit dan setelah tenggang waktu kira-kira cukup untuk melakukan sholat dua rakaat dan khutbah.</p>
<p>Apabila ia menyembelih pada waktu tersebut maka telah sah meskipun ia sholat ied atau tidak.  Imam Hanafi mengatakan: waktu penyembelihan untuk penduduk pedalaman yang jauh dari perkampungan yang ada masjid adalah terbitnya fajar, sedangkan untuk penduduk kota dan perkampungan yang ada masjid adalah setelah sholat iedul adha dan khutbah ied.  Imam Malik berkata: waktu penyembelihan adalah setelah sholat ied dan khutbah.</p>
<p>Imam Ahmad berkata: waktunya adalah setelah sholat ied.Demikian, waktu penyembelihan berlanjut hingga akhir hari tasyriq, yaitu tanggal 13 Dzulhijjah.  Tidak ada dalil yang jelas mengenai batas akhir waktu penyembelihan dan semua didasarkan pada ijtihad, yaitu didasarkan pada logika bahwa pada hari-hari itu diharamkan berpuasa maka selayaknya itu menjadi waktu-waktu yang sah untuk menyembelih qurban.  <strong></strong></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Menyembelih di malam hari</strong></span></p>
<p>Menyembelih hewan qurban di malam hari hukumnya makruh sesuai pendapat Imam Syafii. Bahkan menurut imam Malik dan Ahmad: menyembelih pada malam hari hukumnya tidak sah dan menjadi sembelihan biasa, bukan qurban.  <strong></strong></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Hewan yang disembelih:</strong></span></p>
<p>Imam Nawawi dalam syarah sahih Muslim menegaskan telah terjadi ijma’ ulama bahwa tidak sah melakukan qurban selain dengan onta, sapi dan kambing. Riwayat dari Ibnu Mundzir Hasan bin Sholeh mengatakan sah berqurban dengan banteng untuk tujuh orang dan dengan kijang untuk satu orang.</p>
<p>Adapun riwayat dari Bilal yang mengatakan: “Aku tidak peduli meskipun berqurban dengan seekor ayam, dan aku lebih suka memberikannya kepada yatim yang menderita daripada berqurban dengannya”, maksudnya bahwa beliau melihat bahwa bersedekah dengan nilai qurban lebih baik dari berqurban. Ini pendapat Malik dan Tsauri. Begitu juga riwayat sebagian sahabat yang membeli daging lalu menjadikannya qurban, bukanlah menunjukkan boleh berqurban dengan membeli daging, melainkan itu sebagai contoh dari mereka bahwa qurban bukan wajib melainkan sunnah.  <strong></strong></p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>Makan daging qurban</strong></span></p>
<p>Hukum memakan daging qurban yang dilakukan untuk dirinya sendiri, apabila qurban yang dilakukan adalah nadzar maka haram hukumnya memakan daging tersebut dan ia harus menyedekahkan semuanya. Adapun qurban biasa, maka dagingnya dibagi tiga, sepertiga untuk dirinya dan keluarganya, sepertiga untuk dihadiahkan dan sepertiga untuk disedekahkan.  Membagi tiga ini hukumnya sunnah dan bukan merupakan kewajiban.</p>
<p>Qatadah bin Nu’man meriwayatkan Rasulullah bersabda:”<em>Dulu aku melarang kalian memakan daging qurban selama tiga hari untuk memudahkan orang yang datang dari jauh, tetapi aku telah menghalalkannya untuk kalian, sekarang makanlah, janganlah menjual daging qurban dan hadyu, makanlah, sedekahkanlah dan ambilah manfaat dari kulitnya dan janganlah menjualnya, apabila kalian mengharapkan dagingnya maka makanlah sesuka hatimu”</em>(H.R. Ahmad).</p>
<p>Sebaiknya dalam dalam melakukan qurban, pelakunyalah yang menyembelih dan tidak mewakilkannya kepada orang lain. Apabila ia mewakilkan kepada orang lain maka sebaiknya ia menyaksikan.</p>
<p>Wallahu’alam bissowab</p>
<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
											<iframe
												style="height:25px !important; border:0px solid gray !important; overflow:hidden !important; width:550px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
												src="http://www.linksalpha.com/social?blog=Mukhlis+Blog&link=http%3A%2F%2Fwww.mukhlis.net%2Fqurban-sejarah-keutamaan-dan-hukumnya%2F&title=Qurban%3B+sejarah%2C+Keutamaan+dan+Hukumnya&desc=Qurban+dalam+istilah+fikih+adalah+Udhiyyah+%28%D8%A7%D9%84%D8%A3%D8%B6%D8%AD%D9%8A%D8%A9%29+yang+artinya+hewan+yang+disembelih+waktu+dhuha%2C+yaitu+waktu+saat+matahari+naik.+Secara+terminologi+fikih%2C+udhiyyah+adalah+hewan+sembelihan+y&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsbutton=1&fbsctr=1&fbslang=en&fbsendbutton=1&twbutton=1&twlang=en&twmention=&twrelated1=&twrelated2=&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzbutton=1&buzzlang=en&buzzctr=1&diggbutton=1&diggctr=1&stblbutton=1&stblctr=1&g1button=1&g1ctr=1&g1lang=en-US">
											</iframe>
										</div><img src="http://www.mukhlis.net/?ak_action=api_record_view&id=519&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mukhlis.net/qurban-sejarah-keutamaan-dan-hukumnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memilih Sahabat &#8211; Religius</title>
		<link>http://www.mukhlis.net/memilih-sahabat-religius/</link>
		<comments>http://www.mukhlis.net/memilih-sahabat-religius/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 04:33:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mukhlisn</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Other]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mukhlis.net/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Dokumen lama saya yang pernah ditempatkan di site lain, tetapi site itu seperti menelan tulisan ini. Saya tempatkan lagi di sini agar tetap terjaga keberadaannya, agar dapat dibaca lebih banyak orang dalam jangka waktu yang lebih lama. Selamat membaca. MEMILIH SAHABAT Prof. DR. M. Quraish Shihab Lentera Hati, MetroTV 3 Oktober 2004 Disusun oleh Teguh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dokumen lama saya yang pernah ditempatkan di site lain, tetapi site itu seperti menelan tulisan ini.<br />
Saya tempatkan lagi di sini agar tetap terjaga keberadaannya, agar dapat dibaca lebih banyak orang dalam jangka waktu yang lebih lama.</p>
<p>Selamat membaca.<br />
MEMILIH SAHABAT<br />
Prof. DR. M. Quraish Shihab<br />
Lentera Hati, MetroTV<br />
3 Oktober 2004<span id="more-11"></span></p>
<p>Disusun oleh<br />
Teguh Sudibyantoro<br />
<a href="mailto:teguh.sudibyantoro@gmail.com">teguh.sudibyantoro@gmail.com</a><br />
Dan<br />
Arief Wiryanto<br />
<a href="mailto:ariefwiryanto@gmail.com">ariefwiryanto@gmail.com</a><br />
<a href="http://ariefhikmah.blogdrive.com">http://ariefhikmah.blogdrive.com</a><br />
[Moderator]:</p>
<p>Boleh sedikit saya berpendapat : Ada beberapa lingkungan yg sangat berpengaruh dalam kehidupan kita sehari-hari. Yang pertama, yg paling dekat dgn kita adalah keluarga atau di rumah. Yang tidak kalah pentingnya adalah lingkungan di luar rumah yaitu di sekolah, teman, atau yg palng dekat dgn kita adalah sahabat. Pada saat ini kita akan membicarakan bagaimana caramemilih sahabat yg baik.[Pak Quraish]:</p>
<p>Saya ingin tanya dulu. Yang mana lebih disuka, saudaranya atau sahabatnya? [Saudaranya, jawab yang hadir]. Yang lain bagaimana? [Kadang-kadang dgn sahabat, kita lebih bisa curhat, jawab yang hadir]. Itu kalau mau jawaban yg lebih tepat. Kalau memang mau berkata saudara, katakan : saya suka saudara saya kalau dia menjadi sahabat saya. Kalau saudara kita tidak menjadi sahabat, kita lebih suka sahabat daripada saudara, ya kan ?</p>
<p>Sahabat itu apa tho ? Kalau kita buka kamus besar bahasa Indonesia, sahabat itu diartikan teman. Ada juga dikatakan “sahabat kental”. Apa bedanya “teman” dan “sahabat kental” ? Si A adalah teman saya ke sekolah. Si A menemani saya ke pasar. Belum tentu dia sahabat kental saya. Kalau sahabat kental adalah orang yg begitu dekat kepada saya, yg boleh jadi tingkatnya sampai pada tingkat bahwa saya memberitahu rahasia saya.</p>
<p>Nah remaja-remaja ini punya teman-teman, kan ? Apakah semua diberitahu isi hati kita ? Tidak. Itu ada tingkat-tingkatnya. Ada teman yg kita beritahu rahasia-rahasia kita seperti pacar. Ada juga teman akrab tetapi tidak diberitahu rahasia kita. Ada juga kita bersama-sama dgn dia, kita boleh jadi ada kerja sama tetapi hati kurang cocok. Sahabat itu bertingkat-tingkat. Ada lagi yang saya kenal tetapi saya tidak mau duduk dengan dia, tidak cocok rasanya, saya ngomong gini dia ngomong ke sana. Itu semua bisa dinamai teman. Tetapi dalam istilah bahasa Indonesia, teman yg sangat dekat kita namakan itu sahabat kental.</p>
<p>Kalau kita merujuk pada kitab suci Al Qur’an. Istilah yg digunakan tentang teman/sahabat itu bermacam-macam. Ada “shohib” yg dalam bahasa Indonesia menjadi “sahabat”, itu boleh jadi shohib ini tidak seide dengan kita. Tetapi karena dia menemani kita maka kita namakan sahabat dalam perjalanan.</p>
<p>Ada lagi yg lebih tinggi, AlQur’an menamainya “shodiq” dari kata “Shidq”. “Shiddq” itu artinya “benar”, “jujur”. Naa, sahabat yg baik itu, yg lebih tinggi, adalah yg berkata jujur pada anda, yg sikapnya selalu benar pada anda. Itu bagus, lebih bagus daripada sekedar menemani.</p>
<p>Ada yg lebih tinggi lagi. Diistilahkan dgn “kholil”. “Kholil” itu terambil dari akar kata bermakna “celah”. Orang yg begitu dekat dgn anda, yg pertemanannya, yg persahabatannya, yg kasih sayangnya, masuk ke celah-celah qalbu anda. Itu dinamai “kholil”. Ada ndak yg begitu ? Perasaannya sudah sehati. Ketika Anda sakit dia ikut merasakan sakit.</p>
<p>Nah itu yg digambarkan bahwa sahabat kental itu adalah yg “dia adalah aku”. Nah saya beri contoh. Pernah lihat di cermin ? Siapa yg dilihat di cermin ? Diri sendiri. Itulah kholil. Itu yg persis sama dgn anda. Apakah susah mendapat yg seperti itu ? Tapi itu boleh jadi ada. Kalau dalam sejarah Islam itu ada Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar. Suatu waktu ada orang berkata, “Saya tidak tahu siapa khalifah, siapa kepala negara, apa kamu wahai Abu Bakar atau Umar ?”. Abu Bakar menjawab, “Saya tetapi dia”. Kan itu sama.</p>
<p>Sahabat bisa mempengaruhi kita. Karena itu katanya, pandai-pandailah memilih sahabat. Bukan teman, ya ? Bukan kenalan, ya ? Saya, kalau tidak kenal anda, saya bisa kenal anda dengan bertanya “siapa sahabatnya ?”. Karena sahabat itu cermin. Dalam kata-kata bersayap, “menyangkut seseorang, jangan tanya siapa dia, tetapi carilah siapa sahabatnya”, karena sahabat itu cermin dari orang itu. Kalau sahabatnya baik, dia jadi baik. Kalau sahabatnya jelek, dia pasti terpengaruh jadi jelek juga. Jadi harus pandai-pandai memilih sahabat kita karena dia bisa mempengaruhi kita.</p>
<p>Naa saya beri contoh. Ini contoh dari nabi. Kalau anda bersahabat dgn penjual parfum / minyak wangi, bagaimana kira-kira ? Dikasih minyak wanginya atau paling tidak aromanya. Kalo berteman dgn tukang las, bajunya terbakar atau paling tidak aromanya.</p>
<p>Dalam AlQuran ada kata shodiq, shohib, kholil, ada lagi kata bithonah. Bithonah itu adalah orang yg kita beritahu rahasia kita. Ada lahir ada batin. Bathin itu apa artinya ? Bithonah berasal dari kata bathin, yg berarti dia tahu batin kita. Ada waliy yg artinya adalah orang yg mendekat. Kalo Allah berfirman, “Inamal waliyukumullahu wa rosuluhu walladzina amanu, alladzina yu’tuna zakata…”. Orang yg beriman itu “waliy”-nya, teman akrabnya adalah Allah, Rosul, dan orang-orang beriman. Itu temannya. Supaya dia terpengaruh dgn temannya.</p>
<p>Kita lihat lebih jauh. Sekarang kalau mau bersahabat -dalam pengertian bahasa Indonesia- apa sih tujuannya bersahabat ? Atau sebelum itu, perlu ndak kita bersahabat ? Perlu. Kenapa perlu ? Karena kita tidak bisa memenuhi semua kebutuhan kita. Jadi kita terpaksa, “tolong dong”. Yang kedua, hidup ini bisa senang bisa susah. Kalo senang sendiri, enak ndak ? [Tidak]. Naa perlu ada sahabat dong. Semakin banyak orang yg bergembira, semakin besar kegembiraan itu. Pernah sedih. Perlu ndak ada orang yg menghibur kesedihan kita ?<br />
[Perlu]. Aaa kalau begitu kita perlu sahabat. Tapi jangan cari sahabat yg hanya waktu anda senang dia mau jadi sahabat. Ada kan yg begitu ? [Ada]. Cari sahabat yg bisa menemani anda pada waktu senang dan pada waktu susah.</p>
<p>Kita lihat lebih jauh. Kenapa bersahabat ? Ini macam-macam tujuannya. Ada orang bersahabat karena ada kesenangan. Ooo saya bersahabat dgn si A karena dia pandai main basket atau main bola. Sama-sama senang main bola. Ooo ini tujuan bersahabatnya hanya mau senang-senang. Ada lagi orang bersahabat karena ada kepentingan. Katanya, sebagian politisi begitu. Ada maunya saja. Karena itu mereka berkata bahwa tidak ada sahabat abadi dan tidak ada musuh abadi. Karena saya punya kepentingan maka kita bekerja sama sekarang. Besok jika tidak ada kepentingan, tidak akan bekerja sama.</p>
<p>Kalau mau bersahabat yg benar, carilah orang yg terus menerus bersama anda memberi manfaat sampai di hari kemudian. Karena Al Qur’an berkata, “Al akhilahu yaumaidzin ba’duhum li ba’din alu ilal muttaqin”, sahabat yg sekental apa pun yg sudah masuk kecintaannya ke relung-relung qalbunya itu pada hari kemudian akan jadi bermusuhan kecuali sahabat yg dijalin berdasarkan ketaqwaan kepada Allah.</p>
<p>Nah sekarang bagaimana kita cari sahabat ? Dulu Lukmanul Hakim, disebutkan dalam Al Qur’an, pernah menasehati anaknya, “Nak, kalau kamu mau cari sahabat, bikin dia marah terlebih dahulu”, kaget kan ? “Baru lihat, kalau dia tanggapannya itu adil, wajar, tidak berlebih-lebihan, nah itu bisa dijadikan sahabat”. Kalau baru sedikit sudah marah, sudah memaki, wah harus berhati-hati. Kita kan bisa salah. Begitu kita salah lantas dia marah luar biasa. Wah ini tidak bisa menjadi sahabat. Itu nasehatnya Lukmanul Hakim.</p>
<p>Ada yg lain. Merujuk kepada hadist-hadist nabi. Kalau mau cari sahabat, pertama, lihat terlebih dahulu apakah dia baik kepada keluarganya &amp; orang tuanya atau tidak. Kalau anak itu durhaka jangan jadikan dia sahabat. Kedua,lihat bagaimana sikapnya terhadap materi. Ooo ini dia baru mau kenal dgn saya kalau saya belikan dia es krim. Kalau tidak dibelikan es krim, dia tidak mau berteman. Ooo ini tidak bisa jadi teman dong. Lihat juga bagaimana sikapnya tentang kedudukan, dan lain sebagainya.</p>
<p>Kemudian, lihat bagaimana aktivitasnya sehari-hari. Ooo dia itu main melulu tidak pernah belajar. Apakah bisa dijadikan sahabat atau tidak ? [Tidak bisa]. Ooo dia itu tidak sholat, dia itu tidak beragama dgn baik. Lihat kegiatannya sehari-hari. Lihat bagaimana dia kalau anda salah. Dia nasehati anda, dia betulkan anda, atau tidak. Aaa kalau ada yg meninggalkan anda, itu tidak bisa menjadi sahabat.</p>
<p>Dan lihat keakrabannya dgn anda. Dikatakan, tidak mungkin terjalin persahabatan antara satu penguasa dgn rakyat jelata walau pun sebelumnya dia berteman, kalau orang yg berkuasa ini merasa dirinya terlalu tinggi sehingga kalau ditegur dia marah. Bisa kan? Contoh, oo tadinya dia teman saya, tapi begitu dia menjadi ketua OSIS, dia sudah merasa gede, sombong, itu tidak bisa terjalin persahabatan. Tidak juga bisa terjalin persahabatan kalau anda merasa minder. Ooo dia ini sudah terlalu tinggi nih sehingga saya sudah tidak bisa menegur.</p>
<p>Persahabatan itu harus seimbang. Kita sama. Walaupun kamu kaya saya miskin,kamu gagah saya tidak tampan, tapi kita kan sama-sama manusia. Itu bisa terjalin persahabatan. Jadi kalau ada keangkuhan, tidak akan terjadi persahabatan.</p>
<p>Itu tuntunannya. Jadi pilih-pilih. Lihat itu. Sebab kalau tidak, pasti dipengaruhi. Kita tidak bisa bertahan itu.</p>
<p>Sekarang, anda sudah punya sahabat. Bagaimana memelihara itu persahabatan itu ? Itu tidak gampang memelihara persahabatan. Ada orang pandai bersahabat tetapi tidak pandai memelihara persahabatan. Nah ada tuntunan agama bagaimana seseorang memelihara persahabatan. Dan kalau saya berbicara tentang persahabatan ini, itu bukan hanya antar anak-anak. Orang tua pun termasuk.</p>
<p>Yang pertama, dikatakan, jangan mencampurbaurkan antara serius dan canda. Biasa serius, dianggap bercanda. Biasa bercanda, dianggap serius. Itu kalau campurbaur, putus itu persahabatan. “Saya kan main-main nih, main-main maki anda, terus anda anggap serius”. [Diambil hati terus tersinggung]. Tersinggung kan ? Lha ini orang main-main saja. Anda tidak bisa memelihara persahabatan kalau mencampurbaurkan itu.</p>
<p>Yang kedua, biasa sahabat kita itu bisa bercanda, bisa juga serius dia marah. Kalau mau pelihara persahabatan, jangan jawab marahnya atau makiannya itu dgn makian yg serupa. Tapi bisa menjawabnya dgn bercanda kepadanya. Dalam hubungan suami istri misalnya kalau istri marah jangan ikut marah tetapi peluk dia, cium dia, nanti ndak jadi marah. Jadi jangan dijawab dgn marah. Itu terpelihara. Ooo dia marah, dijawab dgn canda dgn muka ceria. Jadi harus ada satu yg mengalah.</p>
<p>Yang ketiga. Jangan sekali-kali berkata kepada teman anda, “Kamu bodoh”. Dan jangan juga kalau dia memberi saran pada anda dan ternyata sarannya keliru terus berkata, “Ini gara-gara kamu nih”. Biasa begitu ? Itu tidak terpelihara. Jangan juga berkata kalau anda beri saran pada dia lantas saran anda bagus, “Itu kan karena saya”. Itu tidak terpelihara persahabatan.</p>
<p>Harus pandai mendengar. Kalau sahabat anda itu menyampaikan joke / cerita lucu dan anda sudah tahu, bagaimana caranya ? Jangan bilang, “Stop, itu saya sudah tahu tuh”. Tidak bisa begitu. Terus saja mendengarkan. Ikut tertawa. Menjadi pendengar yg baik. Kalau tidak pandai mendengar, persahabatan tidak akan langgeng.</p>
<p>Jangan sekali-kali, menampakkan jasa anda kepada sahabat. Karena itu menjadikan paling tidak dia rendah diri. Kalau sudah berbeda, ada satu yg rendah diri, satu tinggi hati, tidak terjadi persahabatan yg tulus. Ya kan ?</p>
<p>Kalau sahabat anda senang, ikutlah senang. Itu adalah kewajiban bersahabatan. Kalau dia susah, ikut susah, yg demikian lebih wajib. Jadi jangan sekali-kali menampakkan kesedihan waktu dia senang. Jangan juga menampakkan rasa senang waktu dia sedih. Itu baru anda bersahabat. Ini lagi susah, eh datang bercanda.</p>
<p>Persahabatan ini baru bisa langgeng sampai hari kemudian kalau sesuai dengan tuntunan agama. Karena itu di hari kemudian ada tujuh kelompok yg mendapatkan kedudukan yg tinggi di sisi Tuhan salah satu di antaranya adalah dua orang yg bersahabat karena Allah, bertemu dalam tuntunan agama, dan berpisah dalam tuntunan agama.</p>
<p>[moderator]:<br />
Bagaimana pendapat bapak tentang persahabatan antara dua orang yg sudah tidak ada saling ketersinggungan dalam arti bercanda secara kasar tidak merasa tersinggung. Itu bagaimana ?</p>
<p>[Jawab]:<br />
Saya kira itu bisa saja ada. Tetapi sekali-sekali, bisa juga ada rasa tersinggung. Jadi sebenarnya kita harus tetap menjaga. Bisa saja ada situasi yg membuat marah lantas putus. Jadi betapa pun, bercanda jangan berlebihan. Kalau serius, kita serius. Kalau bercanda, kita bercanda, tapi jangan berlebihan. Kalau bercanda dan dia tidak tersinggung, memang seharusnya begitu. Seperti panduan pertama, jangan campurkan antara bercanda dan serius.</p>
<p>[Tanya]:<br />
Curhat. Sebatas mana dalam Islam dalam hal yg disampaikan. Mungkin kita menyadari agak sulit sekali untuk mencari sahabat sejati. Kita khawatir isi hati, rahasia sudah disampaikan, satu saat kita pecah misalnya, kita berpisah dan dia benci sama kita sehingga rahasia kita dibeberkan. Batasan-batasan dalam Islam itu sebatas mana rahasia kita bisa diungkapkan kepada orang lain.</p>
<p>[Jawab]:<br />
Yang pertama dulu, jangan curahkan semua rahasia anda kepada orang yg anda tidak percaya. Itu sebabnya di dalam Al Qur’an dikatakan, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran : 118). Bukan karena dia berlainan agama atau berlainan bangsa dgn anda. Tetapi karena orang itu -yg Allah larang sebagai tempat curhat- tidak segan-segan terus-menerus akan mencari keburukan kamu. Sudah jelas kebenciannya kepada kamu. Dari ucapan-ucapannya. Jangan sampaikan kepadanya.</p>
<p>Tetapi kalau anda yakin bahwa orang ini jujur, bisa dipercaya, dan beragama maka silakan curhat. Silakan sampaikan rahasia. Tapi syaratnya itu tadi. Dia orang yg terpercaya agamanya, dll.</p>
<p>Dan kalau dia terpercaya agamanya, tidak mungkin ia mengkhianati anda. Itu sebabnya juga yang paling banyak tahu kita itu, kalau dalam kehidupan suami istri, kan suami yg paling tahu istrinya dan istri yg paling tahu suaminya. Kalau terjadi perceraian, kalau dia beragama (istri / suami) maka dia tidak akan beberkan keburukan suaminya/istrinya.</p>
<p>Jadi curhatlah kepada orang yg anda percaya. Dan sebelum sampai pada tingkat percaya itu ada proses. Sebelum bersahabat kan berkenalan dahulu. Setelah berkenalan ya berteman. Setelah berteman, teruji menjadi shodiq. Setelah shodiq menjadi khalil. Istilah lain selain itu di Quran adalah qorin. Teman yg selalu di mana-mana curhat-curhatan. Jadi bertingkat-tingkat.</p>
<p>[Tanya]:<br />
Anak kecil bernama Gelar. Ada satu orang anak merasa cocok dgn anak yg lain. Mereka sudah bersama, selalu bareng, sudah dianggap sebagai sahabat. Tetapi mereka berdua itu berlainan agama. Itu bagaimana ?</p>
<p>[Jawab]:<br />
Bagus ni pertanyaannya. Sebenarnya tidak ada halangan dalam ajaran Islam dalam bersahabat dengan siapa pun. Bahkan, kalau kita baca dalam Al Qur’an dalam masalah sahabat ini, ada perintah Allah di surah An Nisa, “Wa’budullah wala tusyriku bihi syai’an wabil walidaini ihsana….. wa shohibi bil jambi”. Kita disuruh berbuat baik kepada teman yg berdekatan dgn kita. Yang berdekatan ini boleh jadi yg berdekatan rumahnya, boleh jadi berdekatan sama-sama dalam perjalanan, dll. Tidak ada halangan untuk bersahabat. Tapi ingat, masing-masing harus saling menghormati, harus saling menjaga perasaan, masing-masing harus menjalankan agamanya dgn baik. Jangan sampai ada sifat-sifat buruknya mempengaruhi kita, itu yg terlarang. Karena itu tidak terlarang tetapi sebelum itu, sebelum akrab, yakinlah bahwa dia memberikan manfaat buat saya. Ooo saya bersahabat mau belajar bersama, boleh-boleh aja. Saya bersahabat mau pergi menonton bersama, boleh-boleh aja. Walaupun berlainan agama, berlainan bangsa, berlainan suku, selama tujuannya itu baik dan benar. Boleh saja. Saya juga punya banyak sahabat non muslim.</p>
<p>[Tanya]:<br />
Katanya, kalau terlalu akrab dengan teman itu suka kalau ada gesekan sedikit, susah kembalinya. Apakah itu betul, pak?</p>
<p>[Jawab]:<br />
Itu betul, kalau yg bersangkutan tidak memperhatikan syarat-syarat bagi pemeliharaan persahabatan. Ini tadi, akrab sekali tetapi canda dijadikan serius. Akrab sekali sampai tidak segan-segan berkata “kamu bodoh” di depan orang. Padahal untuk memelihara persahabatan tetap harus dijaga perasaan. Karena itu pula ada pesan bahwa semua yg melampaui batas itu buruk. “Khairul ummur al washad”. Saya mau beri contoh. Berwudhu itu berapa kali? Tiga-tiga kali. Kalau misalnya ada air sungai, boleh ndak berwudhu empat-empat kali? Airnya ndak habis-habis nih. Tidak boleh juga. Yang berlebih-lebihan itu buruk. Bercanda jangan berlebih-lebihan. Naa, bersahabat, bercinta, jangan juga berlebih-lebihan. Cintai kekasihmu sewajarnya, karena apa? Boleh jadi ia menjadi lawanmu suatu waktu. Musuhi musuhmu sewajarnya, boleh jadi ia menjadi sahabatmu suatu waktu. Moderasi itu, pertengahan itu adalah yg baik. Semua yg ditengah, dala, hal ini baik. Boros jelek, pelit juga jelek. Ceroboh jelek,penakut jelek, nah di tengahnya itu adalah berani.</p>
<p>[Moderator]:<br />
Pak Quraish, sedikit, ada beberapa pendapat bahwa ada pantangan berbisnis bersama sahabat karena aslinya ketahuan karena itu menyangkut materi.</p>
<p>[Jawab]:<br />
Na kalau menyangkut materi ya begitu itu. Itu bisa saja terjadi. Karena persahabatannya bukan didasari keikhlasan, bukan didasari kepentingan yg lebih besar, tetapi didasari oleh keuntungan. Tapi kalau dia bersahabat secara tulus, boleh jadi dia justru memberikan sebagian keuntungannya untuk yg bersangkutan. Nah itu sahabat yg benar.</p>
<p>[Kesimpulan]:<br />
Kalau kita mau pilih sahabat, saya ingin katakan, pandai-pandailah memilih sahabat. Carilah sahabat yg bisa memberi manfaat pada anda sebanyak mungkin dan selanggeng mungkin. Kemudian, pandai-pandailah memelihara sahabat. Banyak orang pandai bersahabat tetapi tidak pandai memelihara persahabatan itu. Nah persahabatan yg langgeng itu adalah yg didasari oleh kepentingan yg langgeng pula bukan kepentingan sementara. Dan kepentingan yg langgeng itu tidak ada kecuali yg berdasarkan nilai-nilai ajaran agama. Mau materi, ga langgeng. Mau cinta/senang karena dia cantik, ga langgeng, karena kalo sudah tua jadi jelek tho.</p>
<p>[moderator]:<br />
Mudah-mudahan buat kita semua yg ada di sini dan juga pemirsa di rumah bisa mendapatkan sahabat yg baik dan berpengaruh baik terutama untuk kita.</p>
<div style="padding-top:5px;padding-right:0px;padding-bottom:5px;padding-left:0px;;">
											<iframe
												style="height:25px !important; border:0px solid gray !important; overflow:hidden !important; width:550px !important;" frameborder="0" scrolling="no" allowTransparency="true"
												src="http://www.linksalpha.com/social?blog=Mukhlis+Blog&link=http%3A%2F%2Fwww.mukhlis.net%2Fmemilih-sahabat-religius%2F&title=Memilih+Sahabat+-+Religius&desc=Dokumen+lama+saya+yang+pernah+ditempatkan+di+site+lain%2C+tetapi+site+itu+seperti+menelan+tulisan+ini.%0D%0ASaya+tempatkan+lagi+di+sini+agar+tetap+terjaga+keberadaannya%2C+agar+dapat+dibaca+lebih+banyak+orang&fc=333333&fs=arial&fblname=like&fblref=facebook&fbllang=en_US&fblshow=1&fbsbutton=1&fbsctr=1&fbslang=en&fbsendbutton=1&twbutton=1&twlang=en&twmention=&twrelated1=&twrelated2=&twctr=1&lnkdshow=noshow&lnkdctr=1&buzzbutton=1&buzzlang=en&buzzctr=1&diggbutton=1&diggctr=1&stblbutton=1&stblctr=1&g1button=1&g1ctr=1&g1lang=en-US">
											</iframe>
										</div><img src="http://www.mukhlis.net/?ak_action=api_record_view&id=11&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.mukhlis.net/memilih-sahabat-religius/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

