Sejak kasus ariel menjadi headline beberapa hari lalu hingga saat ini, bangsa ini seolah tidak sadar sudah sekian lama dicecoki liberalisasi dan legalisasi pornografi. bagaimana tidak, pornografi yang diatasnamakan seni ataupun yang sengaja ditampilkan ke publik secara terang-terangan dalam berbagai media, terutama visual (video), gambar, dan auditori justru masih banyak dijumpai. Sudah barang tentu, generasi muda khususnya anak usia sekolah yang paling terkena imbasnya.
Sebagaimana opini yang dimuat dalam harian sindo berjudul, “Sexting, Peterporn, dan Anak”, sudah cukup bukti bagaimana pornografi mempunyai daya destruktif yang sangat besar bagi perkembangan mental anak. Dari pengalaman seseorang yang tidak saya sebutkan namanya disini, seseorang yang terbiasa mengonsumsi pornografi, apalagi masih berusia sangat dini dengan konsisi mental biologis yang belum matang, cenderung tidak hanya berpikiran sangat cabul, tetapi juga telah memaksa kedewasaan biologisnya, sehingga mengarahkanya untuk melakukan pornoaksi. Inilah yang dalam bahasa agama dinamakan zina hati.
Karena sifat manusia yang environmentalistik, maka pornografi yang sudah merasuki pikiran sadar dan alam bawah sadar manusia, selanjutnya akan menuntut pemuasan nafsu biologis. Apalagi dengan masih lemanhnya pendidikan karakter anak-anak Indonesia, seorang anak yang sudah terinfeksi virus pornografi akan dengah mudah menyebabkan tersebarnya pengaruh negarif bagi teman-temanya, yang bahkan masih steril. Lalu akan jadi apa generasi bangsa ini menjadi bangsa selakangan ?
Menyadari efek inilah, semestinya kita semua sepakat untuk terus mendukung dan mengupayakan, terutama pemerintah yang sangat berkewajiban (DEPKOMINFO) untuk dapat menciptakan iklim dan lingkungan informasi yang sehat, terutama yang akan diakses ke public. Karena ibarat sebuah system dalam computer, virus yang sudah parah tidak akan efektif ditanggulangi dengan antivirus / antiporno, tetapi juga menutup rapat-rapat berbagai pintu bagi masuknya pornografi. Karena mengonsumsi sampah pornografi, berarti meracuni pikiran dan perbuatan kita. (Anton Bayu RS)
Popularity: 1% [?]
sdah seharsnya pemerintah dpt mbuat program di setiap level pendidikn di indonesia, sayangnya hal ini tdk pernah dilakukan