<

Cerpen Apa Masih Ada Waktu Karya Eko Triono

[ad_1]

Dunia Kata - Cerpen - Apa Masih Ada Waktu-01

Karya: Eko Triono

Ketika memutuskan mengadu pada ibunya, Amri malah mendapat jawaban tak terduga. Dia mula-mula kehilangan harapan. Namun, setelah memikirkannya kembali, dia seolah baru saja mendapat cahaya cemerlang, menemukan jalan keluar dari suramnya penderitaan yang selama ini telah berulang tiap pagi, siang, dan puncaknya pada sore di lapangan bulu tangkis depan rumah Pak Virly.

Dia pun bangkit dari lamunan murung di awal malam. Kegembiraan yang aneh terasa mengalir dalam tubuhnya.

“Kali ini pasti berhasil,” pikirnya. “Karena lebih masuk akal.”

Yang pertama dia lakukan adalah meyakinkan diri untuk membuang gambar naga hitam pada kain putih seukuran sapu tangan yang dipaku di dinding dekat jadwal piket dan jadwal pelajaran. Naga itu mengerikan dan dikelilingi tulisan-tulisan berantakan, seperti perpaduan taburan paku payung dan remukan peyek kacang, yang dia sendiri tak pernah mengerti apa artinya sejak membelinya dari Ki Kusuma di Pasar Wage.

Dia ke sana minggu lalu bersama Waluyo, teman sekelasnya yang uang sakunya banyak dan sering dipalak, namun tinggalnya di kompleks yang berbeda.

Menurut Waluyo, sejak dia membeli harimau gaib sebagai pelindung–dia memilih harimau putih–sejak itu begundal kakak kelas sialan tidak berani macam-macam lagi. Tiap kali mau mendekat berbuat jahat, Waluyo merapal mantra pemanggil harimau gaib dan anak-anak sok jagoan akan kabur seperti kijang pucat

“Kamu jangan bilang untuk kepentingan pribadi, tapi umat manusia,” kata Waluyo, “agar Ki Kusumo bersedia.”

Amri mengangguk. Setelah tiba di Pasar Wage, melintasi lorong di antara lapak penjual, mencium aroma pasar, mendengar kebisingan tawar-menawar, riuhnya dangdut, dan tibalah keduanya di penjual barang-barang antik.

Ketika Ki Kusumo bertanya buat apa, dia pun menjawab dengan tegas: untuk melindungi umat manusia dari penderitaan akibat manusia yang lainnya.

Ki Kusumo tersenyum senang, “Akan kuberikan naga pelindung yang kau inginkan, Nak. Kalian masih kecil, tapi sepertinya telah terpilih oleh alam semesta, telah mengerti bahwa manusia kaya akan menindas manusia miskin, manusia pintar akan memperalat manusia bodoh, dan manusia kuat akan menindas manusia lemah. Tapi sebelum kuberikan, kamu bawa maharnya?”

Amri dengan senang hati memberikan tabungan duit yang sejatinya untuk study tour. Itu adalah Sabtu siang yang terasa luar biasa baginya.

Ketika sore tiba nanti, dia yakin anak-anak di Kompleks Perdu Baru akan berubah sikapnya. Terutama saat main bersama di lapangan bulu tangkis depan rumah Pak Virly. Dia yakin tidak akan lagi disuruh-suruh; meniup bola plastik kempes yang ada bekas tahi ayam kering, mengambil bola saat masuk selokan berlumpur busuk, berdiri di depan rumah pemiliknya saat bola menghantam kaca jendela, membeli es di warung Bu Soraya untuk anak-anak yang lebih besar usianya, dipelorotin celananya dan diminta mengambil di pohon nangka dalam keadaan telanjang dan banyak semut rangrang dan mereka semua tertawa-tawa girang.

Sore tiba, dia datang lebih awal, duduk menanti dengan penuh percaya diri dengan sesekali melihat bayangan tubuhnya di arah timur yang seolah telah menjelma bayang-bayang naga yang wibawa.

Ketika satu persatu teman-temannya datang, mereka dengan santai menginjak bayang-bayang naga yang sakti itu, bahkan Jasman si kiper mengencinginya dengan santai, dan seolah tak ada perbedaan dari hari-hari sebelumnya selain bahwa ini hanyalah hari Sabtu yang biasa.

Baca Juga: Cerpen Teka-Teki Hilangnya Mayor Georg Muller Karya Abdul Hadi

Ketika tak tahan lagi dan mengadu pada ibunya pada malam Senin setelah ribut mencari kaos kaki, ibunya menjawab tenang di sela-sela menyiapkan bahan buat jualan bubur sumsum esok pagi.

“Mereka tidak berani berbuat begitu seandainya kamu lebih kuat, lebih pintar, atau lebih kaya.”

“Mengapa begitu?”

“Karena manusia memang begitu.”

“Zaky paling bodoh, tapi tidak ada yang berani nakal sama dia.”

“Karena dia anaknya Pak Lurah.”

Keduanya terdiam. Seperti mulai terbiasa diam ketika membicarakan bapak. Ibunya diam karena merasa bersalah. Dia tahu suaminya bukan siapa-siapa, dan itu membuat anaknya harus terbiasa dihina oleh anak lain yang bapaknya lebih kaya, lebih punya jabatan, atau lebih dahulu tinggal di kompleks ini. Lebih menyedihkan lagi sejak Amri naik kelas empat sampai mulai kelas lima, suaminya belum ada kabar lagi dari Batam. Pamitnya kerja ke luar pulau bersama Bos Badur, tetapi tak ada kejelasan, hingga membuatnya harus jualan bubur keliling dengan sepeda tiap pagi sampai siang.

Sebagai ibu, dia merasa bersalah pernah memarahi anak satu-satunya ketika minta sepeda seperti teman-temannya.

Anaknya sering diejek hanya bisa pinjam, minta bonceng, dan lebih sering diminta menjadi mesin. Mulutnya bunyi seperti MotoGP sambil lari mendorong dari belakang, sementara temannya nangkring seperti Satria Baja Hitam. Menyaksikan itu semua membuat hatinya nelangsa.

Dia sadar sesadar-sadarnya bahwa anak-anak tidak bisa memilih lahir dari keluarga yang mana. Seadainya dia bisa memilih, dia pun tidak akan memutuskan lahir dari keluarga petani buruh yang mengirimkannya pergi jadi pembantu di luar negeri beberapa tahun lalu.

Sementara diamnya Amri karena sudah mulai menandai, emosi ibunya bisa tiba-tiba mendadak saat mulai membicarakan tentang bapak.

Dia pergi ke kamarnya yang separuh batu bata tanpa plester, separuhnya lagi dinding anyaman bambu, lalu di atasnya bohlam lampu DOP 10 watt yang tetap redup meski telah mencoba menyala melotot sedemikian rupa. Di bawahnya, di bawah lampu yang tak pernah berkedip itu, Amri duduk melamun di tepian ranjang yang ujungnya diganjal potongan sandal karena tak berimbang.

Dia memikirkan kembali ucapan ibunya. Dia melihat tangannya sendiri, kecil. Kakinya, tidak sekuat Jasman si kiper.

Dia tidak pernah mendapatkan kedudukan apa pun di antara teman-temannya dengan fisik selemah ini. Kalau harus menunggu besar nanti, mereka pun akan lebih besar lagi, karena kebanyakan lebih tua usianya. Mengapa aku lahir terlambat? Dia menarik napas.

Kekayaan? Dia melihat sekeliling kamarnya sendiri. Tempelan poster superhero, tabel hafalan perkalian dan pembagian, kalender untuk menutupi lubang dinding, jadwal pelajaran, gambar naga, sisir buntung, dan jam tangan yang mati. Sementara dia tahu persis kamar teman-temannya. Seandainya kamar ini bisa hidup pun pasti akan diperbudak oleh kamar teman-temannya.

Kecerdasan? Yang benar saja, pikirnya. Mereka lebih tua, artinya sekolahnya setingkat lebih tinggi.

Di kompleks ini, selain pendatang baru, dia yang sekolahnya paling rendah tingkatnya. Bukan hanya tingkat kelasnya, bahkan tingkat biayanya. Seandainya sekolahnya bisa hidup pun pasti akan disuruh-suruh oleh sekolah milik teman-temannya.

Itulah saat-saat serasa ada cahaya turun dari bohlam DOP 10 watt ke arah kepala Amri. Cahaya cemerlang yang akan membimbingnya mengakhiri penderitaan yang selama ini telah berulang tiap pagi, siang, dan puncaknya pada sore di lapangan bulu tangkis depan rumah Pak Virly.

Pertama-tama dia membuang gambar naga gaib yang tidak bisa melindunginya, yang dibeli dari Ki Kusumo, yang kelak dia akan tahu ternyata kakek tua aneh itu hanyalah kakeknya Waluyo yang berkomplot, kemudian dia membersihkan dinding kamarnya, berniat mengganti gambar-gambar tak berguna dengan rumus-rumus paling rumit di muka bumi, dan mengganti gambar naga dengan tempelan mantra paling terpercaya sejak zaman nenek moyang yang ditulisnya sendiri, yang berbunyi: rajin pangkal pandai. Dia percaya pada ibunya.

“Kalau aku tidak kaya, bukan anak pejabat, paling tidak aku harus menjadi anak yang pandai agar tidak selalu direndahkan,” pikirnya di antara cahaya 10 watt. 

Dia menata buku-buku pelajaran. Dia bersiap untuk tiap hari belajar sampai larut malam. Namun, setelah beres-beres, dia merasa lelah. Dia merasa harus tidur sebentar dan dia terlambat bangun, sudah ada ibunya di sisi, dan dia bertanya mengapa ibunya belum berangkat jualan bubur? Ibunya, yang telah selesai berkemas, berkata dengan mencoba tetap tersenyum tegar.

“Pemilik kontrakan tadi datang, kita diminta pindah sekarang, karena kita belum membayar tunggakan,” kata ibunya kemudian.

 

Tentang Penulis:

Eko Triono, menulis kumpulan cerpen Agama Apa yang Pantas bagi Pohon-pohon? (2016), Republik Rakyat Lucu (2018), dan Berapa Harga Nyawa Hari Ini? (2022).

Ruangguru membuka kesempatan untuk kamu yang suka menulis cerpen dan resensi buku untuk diterbitkan di ruangbaca, lho! Setiap minggunya, akan ada 1 cerpen dan 1 resensi buku yang dipublikasikan. Kamu bisa baca karya cerpen menarik lainnya di sini, ya. Yuk, kirimkan karyamu juga! Simak syarat dan ketentuannya di artikel ini. Kami tunggu ya~

New call-to-action

[ad_2]
<

About mukhlis.net

blogging and sharing

Leave a Reply

Your email address will not be published.