<

Cerpen Kabut Terakhir di Hutan Kami karya Akhmad Ilham Cahyono

[ad_1]

Cerpen - Kabut Terakhir di Hutan Kami - Akhmad Ilham Cahyono

Oleh: Akhmad Ilham Cahyono

Kabut telah lama lenyap. Tak ada lagi ketentraman. Tak ada lagi riuh di pagi hari ketika kabut itu datang. Sampai kelak kami ketahui jika kabut itu adalah kabut terakhir dalam hidup kami. Kabut yang akan kami jumpai lagi di langit. 

Tetua kami selalu mengingatkan untuk waspada terhadap perubahan alam. Ia mengajari kami melihat tanda-tanda. Jika langit terang dan udara terasa dingin, maka kemarau akan datang. Jika udara malam terasa pengap, maka esoknya akan turun hujan. 

Di hutan ini, segala kehijauannya telah merawat kami. Riuh kawan-kawan yang lain menandakan bahwa hidup masihlah panjang. Sepanjang sungai tepi hutan yang tak kami tahu ujungnya.

Sungai itu selalu memenuhi dahaga kami. Airnya amat jernih sehingga nampaklah wajah kami pada pantulannya. Dan di bawah sungai itu kami dapat melihat langit yang amat terang birunya. Awan-awan begitu putih bagai tiada lagi yang lebih putih darinya.

Ketika malam datang dengan selimut gelapnya yang berbalut gemerlip bintang, di atas rumput yang lembut, kami saling berbicara satu sama lain. Menceritakan petualangan-petualangan seharian penuh. Kami yang dewasa tertawa mendengarkan anak-anak kami, mereka memanjati pohon dan sebagian mengikuti dengan berjalan atau berlari di antara semak-semak dan jalan setapak

Bagi kami tidak ada yang lebih baik dari hari-hari itu.

Sampai suatu saat tetua berbicara.

“Mataku memang tak begitu jeli melihat langit sore hari. Tapi alam selalu memberitahu bagaimana dan kapan kita harus bersiap-siap menghadapi badai atau kekeringan.”

“Lalu Bapa, apa yang membuatmu begitu gelisah?” tanya anak-anak kami pada tetua yang kami panggil Bapa itu.

“Anak-anakku, sebenarnya ini bukan waktu yang tepat untuk kalian mengetahuinya.”

Kami yang dewasa setuju dengan perkataan Bapa karena hal-hal ganjil belakangan ini. Kami tak bisa dan tak berani menjelaskannya pada mereka. Maka Bapalah yang paling pantas dan bisa mengatakan itu semua.

Bapa terdiam, memegang tongkat yang sudah berumur ratusan tahun seperti dirinya. Di atas gundukan tanah Bapa berdiri, kami berkumpul di bawahnya dalam ketegangan.

“Manusia.” Perkataan Bapa meraba-raba udara.

“Kenapa dengan Manusia itu, Bapa?” Tanya seekor tupai kecil yang gemar memanjat pohon.

“Manusia telah masuk dalam hutan ini. Merusaknya. Dan bau mereka menusuk hidungku.”

Berceritalah Bapa atas kesaksiannya sendiri, suatu kali ia melihat Manusia dan benda aneh berukuran besar. Bersuara bising. Benda itu menebang pohon-pohon serta semak-semak.

“Bapa,” sahut tupai kecil itu dengan mata berkaca-kaca. Menangisi impiannya yang tak terwujud lagi untuk memanjati pohon-pohon itu.

Bapa kami, tetua paling dihormati dari golongan Musang menunduk, menahan segala perasaan yang bercampur.

Konon katanya, bangsa Musang hidup amat panjang, bisa mengubah dirinya menjadi apa saja dan beradaptasi dari zaman ke zaman. Kami tak bisa seperti dirinya, namun kami tak ambil pusing sebab yang lebih penting adalah ketenteraman bersama.

“Para Manusia itu sudah hampir memasuki tengah hutan, tempat kita tinggal sekarang.”

Benar kata Bapa sebab beberapa hari lalu kami mencium bau aneh, bau ini menyesakkan dada dan sejak itu lah kami larang anak-anak bermain terlalu jauh.

“Bahkan sungai kita yang jernih tak lagi dapat memantulkan langit pagi, anak-anakku.”

Kijang dan Menjangan menangis tersedu-sedu. Mereka yang selalu minum air dari sungai, bergurau dan berenang-renang di dalamnya tak lagi dapat menikmati kesegaran itu.

“Benda-benda aneh besar itu membuang sesuatu yang amat mengerikan. Berwarna hitam, berminyak, dan berbau tajam. Cairan itu mengalir ke sungai.” Kata Bapa. 

Bapa juga menceritakan, ada benda berserakan. Benda yang kata Bapa amat sulit terurai oleh tanah. Benda yang akhirnya kami ketahui dalam bahasa Manusia: plastik.

Maka setelah Bapa menceritakan itu kami semakin tercekat dan tak tahu akan berbuat apa. Malam tiba, udara amat dingin. 

“Kita harus segera berpindah. Berdoalah meminta karunia alam. Besok pagi sebelum para Manusia itu bangun. Kita harus berjalan keluar dari hutan ini.”

Maka kami terjaga semalaman. Terbayang-bayang hal hal mengerikan. 

Dini hari, kami semua telah berkumpul di tengah hutan. Menundukkan kepala, berharap Ibu Hutan melindungi perjalanan kami.

Bapa memimpin di depan dan yang dewasa berjaga-jaga di barisan paling belakang. Bangsa tupai melewati pohon-pohon, para burung terbang rendah. Iringan langkah kami mungkin akan terdengar magis jika Manusia mengetahuinya. Namun iringan itu adalah kengerian dan rasa takut yang hinggap di tubuh kami.

Kami telah berjalan cukup jauh, melewati sungai yang kini kotor, gelap dan bagai tiada yang lebih gelap serta hitam bagai yang tiada lebih hitam dari langit malam.

Setelah melewati sungai itu, kami merasakan hawa pengap. Dan anak-anak berkata pada Bapa.

“Bapa, benarkah ini musim kemarau?”

Maka Bapa menjawab itu bukanlah kemarau.

Tiba-tiba sesuatu menyala di belakang kami. Kami mendengar bunyi retak ranting-ranting seperti ketika kami menginjaknya. Itulah api, bencana terbesar kami. Ia merambat dan melahap semuanya dengan cepat. Kami lari terbirit-birit berusaha menjauh. Api itu telah mengepung kami, merambat lewat tepian dan akhirnya membuat kami terkepung.

Lolongan kami, teriakan kami terdengar amat kencang ketika api semakin mendekat. Hanya saling berpelukan yang bisa kami lakukan. Setelah itu tak ada suara. 

***

Kami berada di langit, seperti di bawa terbang Ibu Hutan. Tempat kami tinggal telah menjadi hitam, berasap dan menakutkan. Lalu kami berucap, “Bapa, dapatkan kami melihat kembali dan merasakan kabut yang amat kami merindukan itu?

Bapa menjawab, “Setelah ini, kita akan sampai pada tempat di mana para Manusia jahat itu tak akan bisa menyakiti kita lagi. Kita akan sampai di Taman Kabut yang Abadi, tempat segala kebahagiaan dan ketenangan untuk kita, Anak-anakku.”

ruangbelajar

[ad_2]
<

About mukhlis.net

blogging and sharing

Leave a Reply

Your email address will not be published.