Home / Ngeblog / Mahasiswa PGSD, Menjadi Calon Guru yang Serba Bisa

Mahasiswa PGSD, Menjadi Calon Guru yang Serba Bisa

Baca Juga

Mahasiswa PGSD, Menjadi Calon Guru yang Serba Bisa
Nyatanya menjadi guru SD tidak semudah yang dibayangkan. Kita harus menguasai banyak hal.

Digugu dan ditiru, itulah akronim yang biasanya disematkan pada GURU. Jika menjadi guru, sudah seharusnya bisa menjadi fasilitator belajar bagi siswa-siswanya.

Menjadi mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tidak melulu tentang pembelajaran di dalam ruang kelas. Mahasiswa PGSD adalah calon-calon guru masa depan.

Salah satu yang dipelajari adalah mata kuliah Pendidikan Kepramukaan. Kegiatan rutin belajar outdoor ini bagi Mahasiswa kelas L6 PGSD Universitas Negeri Malang (UM) ini untuk melatih kesiapan diri menjadi pembina.

Menjadi guru SD, bukan hanya tentang pelajaran Bahasa Indonesia, IPA, IPS, atau pun Matematika melainkan dituntut untuk menguasai segalanya. Itu termasuk tentang kesenian.

Pada Pendidikan Kepramukaan, selain diajarkan cara-cara menarik membina Pramuka SD dengan berbagai permainan seru, mahasiswa juga mengasah kemampuan seninya dengan menggambar.

“Dalam Pendidikan Kepramukaan, kita berlatih untuk mengasah kreativitas, agar mahasiswa siap ketika menghadapi tantangan dalam mengajar di SD,” kata Nihayati, pengampu Pendidikan Kepramukaan di UM.

Baca juga: Panduan Ekstrakurikuler Wajib Kepramukaan di SD

Kegiatan menggambar sudah sepantasnya diajarkan kepada mahasiswa PGSD karena anak-anak SD cenderung menyukai gambar-gambar. Jadi hal itu bisa dijadikan sebagai referensi untuk media pembelajaran agar dapat menarik minat siswa dalam belajar.

Cara berpikir anak SD yang masih belum dapat berfikir abstrak menuntut para guru untuk memberikan pengajaran dengan media belajar yang konkret. Oleh sebab itu skill menggambar sangat diperlukan.

“Nyatanya menjadi guru SD tidak semudah yang dibayangkan. Kita harus menguasai banyak hal,” kata Ardita, penanggung jawab mata kuliah Pendidikan Kepramukaan, yang SekolahDasar.Net lansir dari Tribunnews (07/02/2019).

About mukhlis

orang dari kampung (cah ndeso), cuma bisa nulis yang ngasal. Mencoba menjadi guru baik dan bermanfaat. Melalui blog cupu ini kutuangkan pengalaman, ide dan hiruk pikuknya pikiran dan perasaan aku. Senang jika anda mau sharing dengan saya. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *