<

Resensi Buku I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki Karya Baek Se Hee

Resensi Buku I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki Karya Baek Se Hee

Jika kamu sedang mencari rekomendasi buku self-healing dengan gaya pengemasan yang unik dan menawan, buku ini harus jadi salah satunya. Simak review selengkapnya!

Pandemi yang tak kunjung pergi nyatanya membuat seseorang rentan mengalami depresi. Terbukti dari hasil survei yang dilakukan secara daring oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) terhadap 4.010 orang responden untuk mendeteksi tingkat masalah psikologis selama pandemi berlangsung. Hasil survei tersebut dipublikasikan laman resmi PDSKJI dengan hasil yang mencengangkan, yakni sebanyak 62% dari 4.010 responden yang melakukan swaperiksa, dinyatakan menderita depresi.

Lebih mencengangkannya lagi, dari 62% yang dinyatakan depresi, sebanyak 44% lebih memilih untuk mati atau melukai diri sendiri dengan pelbagai cara. Jika menengok ke belakang, maka akan ditemui fakta bahwa sejumlah 91% orang dinyatakan mengalami depresi dan yang bersedia berobat hanya 9% berdasarkan data Riskesdas (Riset kesehatan dasar) pada tahun 2018.

Menilik sajian fakta-fakta tersebut, keengganan seseorang mengobati depresinya dipicu oleh beberapa faktor. Sebut saja seperti kurangnya pemahaman yang memadai tentang depresi dan stigma-stigma negatif yang beredar di masyarakat terkait masalah depresi. Tak jarang beberapa masyarakat menganggap seseorang yang mengalami depresi sebagai orang yang tidak waras (orang gila), sehingga orang tersebut justru merasa takut dan malu untuk berobat maupun meminta bantuan.

Kondisi seperti inilah yang membuat orang-orang yang mengalami depresi memilih untuk berdiam diri, lalu tiba-tiba berniat untuk bunuh diri. Padahal depresi bisa pulih sepenuhnya jika diobati dengan tepat. Kabar baiknya, pada bulan Agustus tahun 2019 lalu, Penerbit Haru menerbitkan sebuah buku tentang masalah depresi dengan bahasa yang lebih mudah dipahami oleh orang awam dengan judul I Want to Die, but I Want to Eat Tteokpokki

 

Depresi yang Berujung Prestasi

Kemunculan buku ini seolah menjadi angin segar untuk dunia kesehatan mental, sebab buku ini dituliskan berdasarkan pengalaman nyata dengan sajian bahasa yang apa adanya. Buku ini kali pertama terbit di Korea Selatan pada tahun 2018 dan berhasil meraih predikat best seller. Begitu pula setelah diterjemahkan oleh Hyacinta Louisa ke dalam bahasa Indonesia untuk diterbitkan oleh Penerbit Haru, buku ini masuk ke dalam kategori ‘buku laris’ di jajaran toko buku Indonesia.

Satu alasan utama yang membuat buku ini mudah laris adalah topik yang sangat dekat dengan setiap manusia, yakni masalah depresi atau kecemasan. Sejatinya beberapa manusia⸻entah secara sadar maupun tidak sadar⸻pernah mengalami depresi atau cemas, namun beberapa di antaranya ada yang mudah hilang ada juga yang berkepanjangan. 

Buku I Want to Die, but I Want to Eat Tteokpokki merupakan semacam buku self improvement yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi penulis yang divonis mengidap depresi berkepanjangan (distimia) dan gangguan kecemasan. Penderitaan ini dilalui selama lebih dari sepuluh tahun, hingga akhirnya penulis (Baek Se Hee) menemukan rumah sakit yang cocok untuk pengobatannya pada tahun 2017.

Tak hanya itu, Baek Se Hee juga memutuskan untuk melambaikan tangan agar siapapun yang merasakan hal sepertinya tidak merasa sendirian. Lambaian tangan tersebut mewujud menjadi sebuah tulisan yang berisi catatan pengobatan antara Baek Se Hee dan seorang psikiater yang mengobatinya.

Sebuah buku yang akan memberikan kesadaran pada setiap insan bahwa pengidap depresi atau gangguan kecemasan bukanlah sosok yang harus dijauhi, tapi justru sosok yang perlu didekati dari hati ke hati agar bisa pulih kembali. Di atas itu semua, Baek Se Hee juga berhasil membuktikan kepada dunia bahwa orang yang mengalami depresi nyatanya bisa mengukir prestasi. Predikat #1 best seller di Korea Selatan tentunya menjadi sebuah prestasi yang tak bisa dibantah lagi.

Identitas Buku I Want To Die But I Want To Eat Tteokpokki Karya Baek Se Hee

 

Mengapa di dalam Buku Ini Depresi Menjadi Lebih Mudah Dipahami?

Sebagaimana disebutkan di pembuka tulisan, stigma negatif yang kerap beredar di masyarakat adalah anggapan orang yang mengidap depresi sebagai orang yang tidak waras (orang gila), padahal depresi dan gangguan kecemasan sejatinya bisa dialami oleh siapapun.

Pencerahan tentang masalah depresi di dalam buku I Want to Die, but I Want to Eat Tteokpokki dijelaskan dalam bentuk catatan pengobatan dengan bahasa keseharian yang apa adanya⸻tidak menggunakan kalimat-kalimat ilmiah secara teoretis yang membuat pembaca awam kian tersenyum sinis⸻, sehingga lebih mudah ditangkap maknanya oleh pembaca. Seperti dalam kutipan berikut ini,

A (Penulis): …. Saya hanya merasa depresi. Apakah saya harus menjelaskannya dengan lebih detail?

P (Psikiater): Kalau anda bisa menjelaskannya dengan lebih detail tentu akan lebih baik.

A : (membuka catatan yang ada di ponselku dan mengatakan apa yang selama ini telah aku tulis) Saya sering sekali membanding-bandingkan diri saya dengan orang lain. Akibatnya, saya sering memperlakukan diri saya dengan kurang baik. Kemudian, rasa percaya diri saya sangat rendah. (halaman 18)

Lewat kutipan dialog tersebut, dapat dengan mudah ditemui pengertian simple dari depresi, yakni kondisi memandang rendah diri sendiri karena merasa inferior saat membandingkannya dengan orang lain yang didasari oleh kepercayaan diri yang sangat rendah dan kondisi seperti ini terjadi berulang-ulang kali.

Baca Juga: Resensi Buku Sumur Karya Eka Kurniawan

Depresi menjadi mudah dimengerti karena diagnosis yang dihadirkan tidak dijelaskan dengan kalimat-kalimat teoretis, tetapi dirasakan lewat pengalaman secara langsung. Skema dialog seperti ini juga yang membuat posisi pertanyaan dan jawaban terlihat lebih jelas, sehingga keluhan yang disampaikan oleh Baek Se Hee dapat dengan mudah ditemui solusinya lewat komentar (balasan) yang diucapkan oleh psikiater sebagaimana dalam kutipan berikut ini,

A: Obsesiku terhadap penampilan sangatlah parah. Dulu saya tidak pernah keluar rumah hanya karena hari itu saya tidak merias wajah saya. Rasanya seperti jika berat badan saya naik, maka tidak akan ada orang yang melirik saya sedikit pun.

P: Obsesi itu tidak muncul gara-gara penampilan anda. Obsesi terhadap penampilan itu muncul karena Anda memiliki gambaran yang ideal tentang sosok diri anda. Akibat standar yang Anda buat sendiri itu, maka kriteria anda menjadi sempit dan tinggi. (halaman 35-36)

Keluhan Baek Se Hee tentang kecemasannya atas penilaian orang lain terhadap wajahnya yang belum ber-make up saat keluar segera menemui jawaban lewat skema dialog yang ditampilkan dalam buku ini. Jawabannya sederhana, hal yang membuat Baek Se Hee cemas bukanlah penampilannya atau penilaian orang lain, tetapi standar yang dibuat oleh dirinya sendiri.

Artinya, Baek Se Hee sendiri yang membuat standar bahwa orang tidak akan melirik dirinya yang tidak ber-make up, padahal realita di lapangan belum tentu seperti itu. Sajian cerita dialog seperti inilah yang membuat sebuah masalah atau pertanyaan mudah menemui solusi atau jawaban, karena posisi yang jelas antara pihak penanya dan pihak penjawab.

Selain karena bahasa keseharian dan skema dialog, faktor lain yang membuat buku I Want to Die, but I Want to Eat Tteokpokki mudah dipahami adalah penonjolan warna merah muda pada quote-quote menarik yang menjadi solusi atas masalah depresi sebagaimana dalam kutipan berikut ini,

“Sebenarnya, tidak ada seorang pun yang meremehkan saya, sayalah yang paling meremehkan diri saya sendiri.” (halaman 120)

Pemilihan kalimat-kalimat padat dan menarik seperti ini membuat pembaca lebih mudah menangkap pesan dari setiap bab yang disajikan, karena pada dasarnya setiap pembaca membutuhkan poin-poin penting dari setiap percakapan panjang antara Baek Se Hee dan psikiaternya. Pada akhirnya, tiga hal inilah yang agaknya menjadi faktor utama buku I Want to Die, but I Want to Eat Tteokpokki nyaman untuk dinikmati.

Baca Juga: Resensi Buku Kosmos Karya Carl Sagan

 

Sebuah Kekurangan Ringan

Peribahasa telah menyebutkan bahwa tak ada gading yang tak retak, sehingga sesempurna apapun sebuah karya, tetap dibutuhkan sebuah kekurangan (ringan) untuk menegaskan bahwa pembuatnya juga manusia⸻bukan Pencipta semesta yang Maha Sempurna. Di antara kekurangan ringan dalam buku I Want to Die, but I Want to Eat Tteokpokki adalah sajian percakapan antara Baek Se Hee dan psikiaternya yang seolah dihilangkan bagian pembuka percakapannya (basa-basi percakapan atau pertemuan).

Hal ini ‘sedikit’ mengurangi keunggulan buku ini yang menampilkan bahasa keseharian apa adanya berdasarkan pengalaman langsung, sedangkan di sisi lain menghilangkan bagian basa-basi percakapan. Hal ini dapat diamati pada kutipan berikut ini,

P: Apa yang membuat anda datang ke sini?

A: Hmmmm… Bagaimana ya. (halaman 18)

Terasa aneh jika dalam kali pertama berbicara tiba-tiba secara langsung menanyakan tujuan kedatangan, apalagi jika yang menanyakan hal itu adalah seorang ahli psikologi. Kesan yang didapat seolah kedatangan pasien adalah kedatangan yang tidak diinginkan.

Namun bisa saja penghilangan basa-basi percakapan bertujuan untuk mengefektifkan cerita agar tidak terlalu bertele-tele. Jika memang tujuan penghilangan basa-basi percakapan adalah keefektifan, maka setidaknya cukup ditambahkan ekspresi “selamat pagi/siang/sore/malam” sebagai penanda penggunaan bahasa keseharian yang apa adanya. 

Akhir kata, buku I Want to Die, but I Want to Eat Tteokpokki layak menyandang predikat best seller sebab relateable topiknya dengan realita di masyarakat serta sajian cerita berbasis ‘teori’ psikologi yang mudah dipahami.

 

Tentang Peresensi:

Akhmad Idris merupakan lulusan Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang lahir pada 1 Februari 1994. Saat ini, ia menjadi dosen Bahasa Indonesia di Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa dan Sastra Satya Widya, Surabaya. Selain menulis, Ia juga sering mengisi beberapa kepelatihan Jurnalistik. Baginya, “Menulis adalah mengukir nama di dunia yang sudah lama fana”.

Ruangguru membuka kesempatan untuk kamu yang suka menulis cerpen dan resensi buku untuk diterbitkan di ruangbaca, lho! Setiap minggunya, akan ada 1 cerpen dan 1 resensi buku yang dipublikasikan. Yuk, kirimkan karyamu sebanyak-banyaknya! Simak syarat dan ketentuannya di artikel ini. Kami tunggu ya~

New call-to-action

<

About mukhlis.net

blogging and sharing

Leave a Reply

Your email address will not be published.